Hi … (from Brisbane)

Well, we are finally here. So please accept our very warm greeting from Brissie 😀

8 Juli 2015, tepat sebulan (kurang sehari) sudah kami menginjakkan kaki di negeri Kangguru. Kalo ditanya gimana kabarnya atau gimana rasanya hidup di Australia. Hmmm … not bad, hahahaha … do I have another choice 😛

Sebelum berangkat sudah berjanji pada diri sendiri akan lebih rajin ngeblog, karena mikirnya pasti akan punya lebih banyak waktu kan di sini? Kenyataannya? Bisa dilihat lah ya dari kondisi blog yang berdebu dan penuh sarang laba-laba. Ada banyak hal yang pengen dicertitain, tapi bingung mau mulai dari mana. Hmmm …

Oh berhubung masih anget barusan selesai nulis second essay untuk IAP (Introductory Academic Program), maka selanjutnya penulisan blog akan dilakukan dengan metode yang serupa. Start with the purpose of the post, how the post will be arrange and the post it self. Hahaha … sounds ribet yak.

OK. Where should we start? Selanjutnya akan diharapkan ada beberapa posting tentang persiapan sebelum berangkat (yang masih nempel di ingatan aja), perjalanan dari Jakarta ke Brisbane, beberapa hari pertama di Brisbane (yang mungkin terdiri dari beberapa post). Banyak yeeee … iye, namanya juga rencana. Semoga ALLAH melimpahi saya dengan ke-istiqomah-an untuk menulis. Amiiinnnn …

 

Advertisements

Belajar Lagi

Assalamualaikum. Haiii blog … long time no see yak #sedotDebuPakeVacuumCleaner. Maap-maap sibuk beud dah ini critanya. Long story short aja ya ngapain aja beberapa bulan trakhir ini:

Setelah pengumuman dapat beasiswa, perjuangan pun dimulai. Jadi yaaa … dapet beasiswa itu cuma pintu menuju perjuangan yang luar biasa panjang dan berliku nya Jenderal. DImulai dengan English Academic Purpose (EAP) yang membuat saya merasakan hebohnya jadi mahasiswa lagi. Sungguh 6 minggu yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Senang karena saya dapat teman dan pengalaman baru dan pelajaran yang sungguh baru untu saya. Melelahkan karena saya harus memaksa diri berpikir, merasa dan berbicara dalam bahasa inggris. Trust me, it was fun but really exhausting. Setiap pulang “sekolah” saya merasa sebagian besar dari diri saya sangat-sangat lelah.

Awalnya belajar bagaimana menulis secara akademis itu. Mulai dari menyusun alur yang benar, biar flownya smooth, tapi tetep berhasil menyampaikan pesan. Saya dikenalkan dengan yang namanya Rationale , silakan dicek ke mbah google aja. Konsultasi pertama dengan lecture (native), alur saya dibilang kacau. Bahkan dia nanya “do you think clearly?”. Rasanya pengen langsung nangis deh dikatain bgitu. Well selama ini ga pernah ada yang ngatain gitu sih. Ya kan karena emang ga pernah nulis (paling banter nulis blog dan Nota Dinas), jadi apa yang mau dikomentarin. Eh apa jangan-jangan postingan-postingan saya juga berantakan alurnya -__-

Setelah konsultasi, dilanjut membuat essay 500 kata. Yes cuma 500 kata. Sounds simple ha? But writing it in English … with good and clear thinking … I dont think that was that easy at that time (mulai berantakan). Bener aja, essay saya cuma dikasih C sama lecturenya dengan banyak coretan dimana-mana. Sedih? Banget. Tapi justru itu melecut saya. Sounds klise? Iya emang. Setelahnya saya pepet terus tuh temen-temen yang dapet nilai A. Saya baca essay mereka. Dan saya terkaget-kaget. Essay mereka itu adalah essay yang sangat sedrhana, temanya ringan, bahasanya mudah dimengerti, kata-katanya familiar, dan pesannya langsung tersampaikan begitu selesai dibaca. Lalu saya baca essay saya. Yang saya lihat adalah tulisan yang mbulet, penuh istilah teknis dan yang terparah adalah alur yang melompat-lompat. Lalu saya coba membuat tema saya jadi lebih sederhana.

Satu hal yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah KISS (Keep It Simple, Stupid). Yes, it is not easy to keep something simple. Bagian dari diri kita yang namanya ‘ego’ pasti ingin menonjolkan diri dengan mengetikkan istilah-istilah rumit yang butuh penjelasan panjang (lumayan kan nambahain word account). Ego juga yang mendorong kita menulis kalimat-kalimat bertingkat yang panjangnya udah bisa ngalahin ular naga. Lets blame the EGO!

Setelah essay 500 kata, dilanjut dengan essay 2000 kata yang harus disubmit 2 minggu kemudian. Pening? Jelas, tapi udah tau harus kemana dan ngapain. Library sungguh jadi tempat favorit deh selama 6 minggu itu, karena adem, dan akses internetnya luar biasssaaa, bisa akses ke jurnal-jurnal luar juga :P. Kalo ga inget harus jemput anak di TPA, betah-betah aja kayanya nangkring disana sampe tutup. Begitu dapet ide, langsung bikin coretan rationale nya. Lalu konsultasi ke teman-teman yang dapet pujian di essay 500 word nya. Alhamdulillah mereka adalah orang-orang cerdas yang sangat humble. Bukannya menghindar atau sok sibuk, tapi justru mau dengan sangat pengertian menerima curhatan calon mahasiswa S2 amatiran macam saya ini. Tapi ga mau juga dong ya ngrepotin terus. Jadi trik yang saya lakukan adalah, sodorkan bagan alur pikir saya pada mereka, lalu lihat ekspresi mereka ketika membacanya. Begitu keningnya berkerut, berarti ada yang salah dengan bagan saya. Saya minta mereka nandain aja dimana yg bikin mereka jadi mikir agak berat. Tapi ya itu tadi, karena mereka terlalu baik, selain menandai mereka juga menuliskan penjelasan dari tanda tersebut atau nyerocos menjelaskan kebingungannya. It was really help me. Jadi kangen sama orang-orang hebat itu.

Bagi saya saat itu, kening pembaca yang berkerut menandakan bahwa pesan saya tidak tersampaikan dengan jelas. Ada sesuatu yang kurang dalam alur essay saya. Tulisan akademis yang benar seharusnya mencerahkan, bukan malah membingungkan dan membuat pusing. Kalau setelah membaca, lalu muncul pertanyaan baru yang mengembangkan pesanatau tema nya,  itu baru bagus. Tapi kalau kening berkerut dari awal sampai akhir membaca, tandanya tulisan itu bukan tulisan yang OK, karena sangat memberatkan pembaca . Itu sih yang saya tangkap.

Singkat cerita, saya mulai mengeksekusi essay 2000 kata saya. 3/4 jalan bisa saya lalui dengan mulus. Namun saya kehilangan arah di 1/4 terakhir. Tiba-tiba saya merasa tidak punya cukup waktu untuk melengkapi studi literatur (tsssaaahhhh) saya. Benar saja, hal serupa disampaikan lecture ketika membaca essay saya. Dia menyebutkan titik dimana dia mulai bingung. Dan itu adalah titik yang sama yang saya rasakan ketika saya kehilangan arah. Susah ya ternyata jadi penulis ituuu … Tapi saya senang, karena saya merasa saya sudah bisa menjadi bagian dari pembaca saya. Itu modal yang cukup krusial deh kayanya. Karena dengan mengetahui karakter pembaca, kita akan tahu harus menulis seperti apa, perlu detil atau cukup yang umum-umum aja misalnya.

DI hari essay dikembalikan, senyum saya merekah. Usaha saya diganjar nilai B-. Rasanya pengen tertawa dan memeluk semua orang yang saya temui :D. Cuma B- sih, tapi itu berarti saya sudah membuat kemajuan kan. Dan saya tahu pasti saya belajar banyak hal. Teman-teman dan lecture saya juga mengakuinya. Sama sekali ga ada tujuan menyombongkan diri ketika saya menulis ini. Tapi lebih pada bangga karena saya tidak lantas terpuruk dan menangisi kelemahan saya, tapi justru mau belajar lagi. Ga sabar rasanya pengen segera mulai kuliahnya … hahaha

KISS

gambar diambil dari sini