What to Prepare? … Visa

Ya ampun, ini draft udah tertulis dari 20 Juli 2015, dan baru sekarang diselesaikan.

Isi Form Visa

Sebagai penerima beasiswa dari pemerintah Australia, saya memakai visa 576. Karena kami akan berangkat langsung bersama-sama, maka pengisian form visa dilakukan bersamaan. Suami dan anak-anak menjadi dependent saya di visa tersebut. Ada beberapa dokumen yang harus disedikan (lupa detailnya, maaf), silakan mengacu ke handout yang pasti diberikan oleh AAS Indonesia ketika briefing di sela-sela EAP. Selanjutnya bisa langsung diskusi dengan mereka terkait pengurusan visa dan dokumen yang dibutuhkan. O iya, salah satu kemudahan yang diberikan oleh AAS adalah, mereka menanggung biaya utuk pengurusan visa dependent (suami/istri dan anak), yang kabarnya lumayan mahal kalo harus bayar sendiri. Setelah isi form visa (pastikan AAS officer mengeceknya saat kita mengembalikan form tersebut), tinggal menunggu HAP letter yang akan dikirim via email agar dapat melakukan cek kesehatan.

Cek kesehatan

Cek kesehatan kami lakukan di RS Premiere Jatinegara (sesuai arahan AAS). Ada beberapa RS lain, tapi ini yang terdekat dengan kantor, mengingat cek kesehatan dilakukan di hari kerja. Untuk biaya cek kesehatan, hanya penerima beasiswa yang ditanggung. Pemeriksaan terdiri dari cek fisik, cek mata, cek urin dan rontgen (unuk mengetahui ada riwayat TBC kah). Kami membayar sekitar 1,3 juta kalo ga salah ingat. Untuk anak-anak di bawah 5 tahun hanya diharuskan cek fisik oleh dokter disana, dan ditanyakan riwayat imunsasi nya. Untuk wanita, tidak disarankan melakukan cek kesehatan ketika sedang menstruasi. Hal tersebut saya alami, sehingga saya harus kembali lagi ke RS di hari yang berbeda dengan suami dan anak2, karena di tanggal sek yang dijadwalkan ternyata masa menstruasi saya belum selesai.

Hasilnya akan keluar dalam 2 minggu. Namun RS hanya akan mengirimkan hasil tersebut ke Global Health, yang akan memberikan rekomendasi apakah kita layak diberikan visa oleh Departemen Imigrasi Australia. Kita bisa menanyakan hasil pemeriksaan bila mau dengan menelpon ke RS. Kami ga nanya sih kemarin. Bila dalam kurun waktu tidak ada kabar dari RS, maka dapat diasumsikan ga ada masalah dengan kesehatan kita. Karena bila RS melihat ada masalah, mereka akan mengkomunikasikan kepada pasien, sehingga ada treatment yang dapat dilakukan.

Hasilnya, alhamdulillah aman, karena ga ada berita apa-apa dari RS. Tinggal ketar-ketir nunggu visa nya.

Saat menunggu ga ada yang bsia dilakukan selalin berdoa. Karena bersama keluarga, waktu assessment mungkin agak lebih lama. menurut pegawai AAS Indonesia, bila visa keluarga tidak keluar, maka permohonan harus ditarik. Saya harus berangkat sendiri, dan suami harus apply visa ulang. Sedih dan galau??? Banget. Telpon terus deh, sambil berdoa. Sampai bosen kayanya yang ditelponin. Maaf ya Pak Ponco 😛

Permanent Accomodation

Karena kami mengusahakan berangkat bersama, maka ketersediaan permanent acommodation dalah sebuah keniscayaan (tsaahh …). Setidaknya akan menjadi bahan pertimbangan untuk meloloskan visa keluarga (ini saran dari teman yag sudah duluan berangkat langsung dengan keluarganya). ALLAH benar2 memberi kemudahan ketika Dia telah memutuskan memilihkan sebuah keputusan untuk hambaNya. Ketika EAP saya dikenalkan dengan kakak dari teman sekelas yang suaminya sedang sekolah di UQ, dan sudah akan kembali ke Indonesia. Ngobrol via WA dan langsung klik, belia juga menawarkan untuk take over rumahnya (yang keren banget). Namun, ALLAH mengatur rezki yang lain untuk kami. Karena LoA yang tidak kunjung datang dari kampus, saya beum berani memutuskan untuk mengambil rumah tsb. Walhasil, rumah itu pun diambil oleh teman lain yang juga dari Indonesia. Dan kami dikenalkan dengan seorang teman dari Indonesia yang kebetulan akan pindah rumah. Mereka mengirim foto rumah kepada saya, yang jujur saja tidak membuat saya tertarik (mengingat foto rumah sebelumnya). Namun, kembali lagi. apa yang baik menurut manusia, belum tentu adalah yang baik menurut ALLAH. Si pemilik rumah yang kedua ini MasyaALLAH baik sekali. Kami ditinggali rumah dengan isinya, hanya minus kulkas. Bahkan ketika kami datang, sudah disediakan beras, telur, mie instan dan beberapa bumbu masak, plus nasi hangat di rice cooker. Mereka juga menyempatkan mencarikan stroler untuk Fatih dan carseat untuk anak-anak. Dan oleh teman yang rumahnya ga jadi kami take over, kami dikirim nasi dan lauk lengkap, tersedia di atas meja, plus beberapa piring, sendok, sprei tebal dan electric blanket. Kehangatan yang sampai sekarang pun masih selalu membuat mata ini basah ketika mengingatnya. Eh, jadi ngelantur … maapkeun.

 

OSHC

Mengurus visa keluarga berarti juga harus upgrade asuransi kami, dari individu (yang dibayarkan oleh AAS) menjadi asuransi untuk keluarga. Karena kami masih di Indonesia jadi agak rumit prosedurnya. Pihak kampus tidak menyediakan fasilitas yang memudahkan upgrade ini, jadi saya harus melakukan contact dengan pihak Allianz sendiri sendiri via email. Upgrade hanya dapat dilakukan dengan kartu kredit. Masalahnya adalah kartu kredit siapa yang limitnya lebih dari 50 juta (jumlah biaya yg harus kami bayar untuk upgrade, sekitar AUD5000). Lagi-lagi ALLAH memberi kemudahan. Kami ditolong oleh teman yang sudah lebih dulu sekolah di Australia. Dia membayarkan asuransi kami dengan credit card nya, dan kami mentransfer Rupiah ke rekening nya di Indonesia. Alhamdulillah. Agak belibet prosesnya, tapi alhamdulillah selesai juga. Setelah terupgrade, sertifikat asuransi masing-masing anggota keluarga saya lampirkan sebagai kelengkapan pengurusan visa.

 

Sudah dulu ya untuk persiapan administrasinya. Semoga membantu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s