Khalila, 4 tahun (25 Maret 2011-25 Maret 2015)

Assalamualaikum …

Teruntuk anak Bunda yang paling cantik,

Maafkan lambatnya Bunda dalam menulis surat ini ya sayang. Telatnya sampai lebih dari sebulan. Bunda tidak lupa, hanya saja untuk menulis surat istimewa untukmu pasti membutuhkan konsentrasi dan waktu yang tidak singkat. 2 bulan terakhir ini konsentrasi dan waktu Bunda hampir seluruhnya habis untuk memikirkan rencana keberangkatan kita untuk menyongsong hidup yang lebih baik (semoga) yang inshaALlah akan dimulai Juni nanti.

Terima kasih untuk empat tahun yang begitu luar biasa ini. Tahukah kamu Nak, dulu sebelum menikah, Bunda sering membayangkan akan sering ngobrol dengan anak gadis Bunda. Betapa senangnya Bunda di hari ketika dokter menyatakan bahwa Bunda benar-benar hamil. Meski sebenarnya Bunda sudah merasakan tanda-tanda kehamilan itu beberapa hari sebelumnya. Rasanya sungguh berbeda. Seperti ada semangat dan rasa nyaman yang sulit digambarkan yang muncul di tubuh dan hati Bunda. Mungkin ALLAh sedang memberi tahu Bunda bahwa akan ada makhluk cantik yang luar biasa hidup dalam rahim Bunda.

Sejak saat itu, Bunda jadi sering ngobrol denganmu, tentang apapun. Apalagi ketika dokter menyatakan bahwa calon bayi di perut Bunda memang berjenis kelamin perempuan. Jadi makin sering curhatngobrolnya, Oh apa karena ini ya, sekarang kamu jadi seneng banget ngomong dan susah dihentikan sampai kadang-kadang bikin Bunda pening :D. Well, peribahasa “buah jatuh ga jauh dari pohonnya” itu terbukti benar.

Oh awalnya, Bunda sempat berpikir ingin punya anak laki-laki sebagai anak pertama, karena di keluarga Eyang Semarang kan tidak ada anak laki-laki. Tapi setelah kehamilan makin besar, Bunda berubah pikiran. Bunda mau anak perempuan saja, jadi bisa Bunda mintai tolong bantu Bunda di rumah. Dan benerkaaann … kamu tumbuh jadi anak yang rajin bantu2 Bunda :D.

Kamu jadi calon bayi yang sangat menyenangkan untuk Bunda dan Ayah. Mabok sih, tapi hanya pada bulan-bulan pertama. Itupun setelah muntah Bunda tahu BUnda mau makan apa, sehingga BB BUnda pun naik drastis. Terima kasih Nak, menjadikan Bunda jadi lebih seksi ketika hamil. Bunda menuai pujian ketika hamil, karena Bunda terlihat lebih berisi dan segar. Hahaha …

Kelahiran mu pun tepat waktu. Mules di malam hari, lalu lahir esok paginya, tepat HPL. Terima kasih untuk momen istimewa yang akan selalu Bunda ingat di sepanjang hidup Bunda itu Nak. Setelahnya kita masih harus berjuang lagi untuk proses menyusui. Kamu menangis, Bunda pun menangis karena puting yang lecet. Tapi percayalah Nak, Bunda sama sekali tidak menyesal. Sampai kapanpun Bunda akan selalu menceritakan kepada perempuan-perempuan lain tentang pengalaman Bunda ini dengan bangga. Bunda berharap, Bunda juga akan punya kesempatan untuk menceritakannya padamu suatu hari nanti, di hari ketika kamu menangis di depan Bunda karena pengalaman yang sama. Terima kasih untuk kisah indah itu Nak. Setiap mengingat sentuhan tangan mungil dan tatapan matamu ketika menyusu, masih selalu berhasil membuat Bunda menahan air mata.

2 tahun menyusuimu terasa begitu cepat. Tiba-tiba saja datang masa Bunda harus menyapihmu. Sedihkah? Jangan ditanya. Rasanya seperti akan berpisah darimu. Rasanya Bunda belum memberi semua yang Bunda bisa usahakan untukmu. Lebay? Mungkin, tapi Bunda rasa itu lah yang dirasakan oleh semua Ibu di dunia ini.

Selanjutnya, tentu kamu jadi lebih dekat dengan ayah, tapi ketika sakit tiba, pelukan Bunda toh tetap jadi yang paling kamu inginkan. Teruslah begitu Nak. Ketika kamu merasa sedih dan bimbang, datanglah pada Bunda. Ketika kamu merasa senang, cukuplah bagi Bunda melihat senyum di wajahmu.

Tahun-tahun selanjutnya mulai lebih banyak drama. Anak gadis yang tadinya hanya bisa bermain dalam diam atau menangis bila merasa tidak nyaman, mulai bisa bicara. Tidak hanya bicara, tapi mulai bisa berdiskusi dengan Bunda. Tidak hanya berdiskusi, tapi bahkan mengkronfontasi kata-kata Bunda, yang sering sekali membuat Bunda jadi bicara dengan nada tinggi. Fiuuhh … setiap mengingat setiap perdebatan kita, jadi malu rasanya. Begitu kekanak-kanakan Bundamu ini Nak, yang mudah sekali frustrasi ketika bicara denganmu.

BIla sudah mulai bicara dan bercerita, sulit sekali menghentikanmu, kecuali kantuk tiba-tiba menderamu. Kadang Bunda bilang, Bunda pening mendengar ocehanmu di sepanjang perjalanan Serpong-Jakarta, Jakarta-Serpong. Tapi di saat yang lain BUnda khawatir bila melihatmu hanya diam dan melamun. Serba salah ya? Hahaha … begitulah Bundamu ini Nak.

Selain pintar bicara, gadis kecil Bunda juga sudah mulai senang menari. Suka menyanyi daaannn … senang sekali nonton TV. Huh … ga baik kalo yang terakhir itu. Salahkan Ayah dan Bunda untuk hal ini. Mari kita perbaiki.

Di usiamu yang kedua, Bunda kembali merasakan sensasi yang sama dengan ketika Bunda pertama menyadari kehadiranmu. Benar saja, dokter menyatakan akan ada anggota baru di keluarga kita. Mulai hari itu, kami memanggilmu dengan sebutan Mbak Lila, yang lalu diikuti oleh semua guru dan teman-temanmu di sekolah. Kami berharap dengan memberikan sebutan Mbak padamu, akan membuatmu menjadi lebih dewasa. Dan itu benar terjadi. Gadis kecil Bunda menolak digendong setiap melihat perut Bunda yang makin besar tiap harinya. Kadang Bunda memaksa menggendongmu, lebih karena Bunda tidak mau kamu merasa kehadiran adek akan membuatmu kehilangan Bunda. Sebagai anak yang dewasa, kamu menolak dengan manis “tidak Bunda, ada adek di perut”.

Setelah adek lahir, sempat ada kecemburuan, tapi hanya beberapa hari. Setelahnya kamu nampak sayang sekali pada bayi kecil itu. Sampai sekarangpun, ketika si bayi kecil itu sudah tidak lagi kecil, ketika si bayi itu sudah mulai bisa membuatmu merasa tidak nyaman dengan memaksa ikut bermain denganmu atau merebut benda yang sedang kaugunakan, ketika bayi itu mulai unjuk gigi berebut Bunda atau Ayah denganmu. Marah? Tentu saja. Kamu boleh menunjukkannya, karena kamu tetap harus bisa mempertahankan diri. Kami yang harus menjagamu agar kamu tahu batasannya. Selalu mengalah pada adek bukan hal yang wajib kamu lakukan Mbak. Tapi kalian eh kita harus sama-sama belajar meletakkan sesuatu dan seseorang di tempat yang tepat kan?

Akhirnya, Bunda selalu bersyukur pada ALLAH atas setiap detik yang diberikanNya untuk kebersamaan kita. Semoga masih ada jutaan detik berikutnya ya sayang. Semoga kita bisa sama-sama belajar menjadi lebih baik di setiap detik itu. Semoga Bunda bisa jadi Bunda yang baik untukmu. Yang bisa jadi contoh seperti apa harusnya seorang istri dan bunda itu. AMIIINN.

Peluk kenceng,

Bunda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s