Scholarship and My Beloved Husband

Finally, I got the scholarship. Sooo … Australia, (InshaALLAH) here we come.

We? Yes, kami (saya dan suami) telah sepakat untuk berangkat bersama. Setelah 3 kali mencoba, akhirnya tahun ini menjadi tahun jawaban untuk saya. Mereka memberi kesempatan pada saya, eh kami untuk belajar lagi. Mengapa saya selalu bilang kami? Karena ini adalah keputusan kami.

Ridho suami adalah sebuah keharusan bagi seorang istri. Dan saya benar2 membuktikannya. Tanpa bermaksud menyalahkan suami tercinta, tapi saya merasa bahwa dua aplikasi saya sebelumnya belum mendapatkan keikhlasan dari suami. Meskipun beliau selalu mempersilakan saya apply, dan mengatakan mendukung, namun saya sering menangkap gurat keraguan di matanya. Dan ALLAH menjawab keraguan itu. Namun Dia menjawabnya dengan cara yang sangat elegan. Tentu karena Dia memang Yang Maha Indah kan.

Aplikasi pertama saya ditolak. Meski sedih, namun kemudian ALLAH menghibur saya dengan kehamilan Fatih. Aplikasi kedua saya pun masih belum berhasil. Sedih pastinya, namun lagi-lagi ALLAH menghibur saya dengan kehidupan dan pekerjaan yang lebih penuh tantangan. Di tahun ketiga, ketika semangat sudah mulai luruh dan malu mendera karena kegagalan berkali-kali, justru suami tercinta yang mendorong saya untuk apply lagi. Kali ini saya melihat keyakinan di mata nya. Jadilah saya apply dengan setengah keyakinan, dan justru berhasil.

Keikhlasan beliau tidak hanya dengan mengijinkan saya apply, namun juga dengan mengatakan akan mendampingi saya meraih mimpi saya, yang beliau sebut sebagi mimpi kami. Awalnya saya sering berpikir, bagaimana mungkin ada orang yang begitu santai seperti beliau, seolah ga punya impian atau target untuk diraih. Dan saya pernah secara frontal menanyakan hal tersebut pada beliau, ketika saya merasa jengkel dengan sikapnya yang woles banget itu. Yang dijawab, lagi-lagi dengan sangat santai “Mimpi Ayah ya mewujudkan mimpi Bunda kali ya. Keluarga ini sudah memenuhi mimpi Ayah koq”. Ahhh … how can Im not love you Ayah.

Setelah saya lolos menerima beasiswa, keraguan justru datang pada saya. Kalau kami benar-benar berangkat, artinya belaiu harus cuti di luar tanggungan negara dengan berbagai konsekuensi. Dampak terberat menurut saya adalah dampak psikologis. Apa kata orang pada beliau, bagaimana mereka nanti melihat suami saya. Seorang suami nemenin istrinya sekolah, dan bela2in cuti??? Kan justru beliau kepala keluarga nya, koq malah beliau yg “dikorbankan” kariernya??? Langsung terbayang seberat apa beban beliau nanti. Tapiii … lagi-lagi ketika saya sampaikan kekhawatiran saya, belaiu menjawab dengan santai. “Ayah ikut untuk anak-anak, karena Ayah yakin Bunda ga mau ninggalin anak-anak kan. Menjadi kepala keluarga memang wajib memberi nafkah. Yang wajib itu memberi nafkah, bukan punya karier. Karier itu bonus. Kalo disana nanti Ayah tetap bisa bekerja dan menafkahi keluarga kita, lalu dimana masalahnya. Dan ga usah lah dengerin omongan orang. Wong Ayah sendiri saja ga dengerin koq” (ini diceritakan dengan bahasa saya ya, yang kurang lebih itu point nya). … Pengen nangis deh setiap mengingat kata-kata beliau.

Laki-laki ini yang sering membuat jengkel karena terlalu santai, dan seolah ga punya visi, ternyata justru istiqomah dengan visi nya, yaitu membahagiakan keluarganya, selalu bersama anak dan istri nya. Dan salah satu bentuk ke-istiqomah-annya adalah dengan MAU mendampingi istrinya yg ambisius ini mewujudkan mimpi.

Semoga ALLAH membalas setiap detik ke-ikhlas-anmu mendampingi kami dengan segenap ampunan untuk setiap khilafmu. Dan semoga ALLAH membalas tiap titik cintamu dengan limpahan kasih dan sayang serta ridhoNya bagimu dan setiap usahamu. Semoga setiap senyummu dan tetesan keringatmu mengusahakan kebahagiaan kami dibalas ALLAH dengan keberhasilan dan kemudahan di setiap langkahmu.

Advertisements

6 thoughts on “Scholarship and My Beloved Husband

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s