What to Prepare? … Paspor

Draft ini juga udah lama nangkring di saved post. Tinggal klik published doang padahal, harus nunggu 1,5 tahun. Better late than never kan ya (ngeles lagi). Semoga bermanfaat.

Berawal dari pengumuman beasiswa. Berita gembira? Pasti. Beberapa hari kemudian kami sudah sampai pada keputusan final akan berangkat bersama, yang berakibat pada banyak sekali hal di belakangnya. Itu yang akan saya coba ceritakan disini, plus tantangan yang kami hadapi, apa yang akhirnya kami lakukan dan cerita akhirnya. Hahaha … berasa lagi nulis essay dah ini :P. Oh iya yang ditulis disini yang terkait sama keluarga aja ya. Karena klo untuk pribadi, semuanya udah diurusin sama pemberi beasiswanya.

Buat paspor untuk anak-anak

Kami membuat paspor secara online via web nya Imigrasi. Beberapa hari mencoba, beberapa kali juga gagal, karena web nya sedang maintenance (begitu yang tertulis). Ya tapi koq berhari-hari sih maintenance nya. Akhirnya suatu hari pak suami iseng buka web nya dari PC lain (biasanya buka dari PC sendiri), dan berhasil. Padahal di saat yang sama buka dari PC sendiri ga bisa. I did not know why. Alhamdulillah, berhasil daftar. Tahap nya bisa diikutin di web nya ya termasuk dokumen apa aja yang harus disiapkan. Kami ambil yang 48, biayanya sekitar 350rb kalo g salah. Bayar, lalu balik ke web lagi untuk memilih hari untuk foto. Maaf ga provide detailnya, karena pak suami yang apply, dan pasti susah klo disuruh mengingat-ingat. Di hari H foto, saya ijin dari kelas EAP dan pak suami ijin dari kantor. O iya, kami memutuskan daftar di Tangerang. Berangkat dari rumah sekitar jam 7, which is way tooo late. Kami nyampe sekitar jam 8, antrian udah panjang dan antrian prioritas udah habis :(. Jadi meskipun udah daftar online, tetep aja harus ambil nomer urut untuk foto. Hanya saja antriannya beda dengan antrian yang walk in dan karena semua dokumen udah di-submit online, jadi lebih cepet prosesnya. O iya pada jam 8 tepat akan ada pengarahan dari petugas imigrasi terkait langkah-langkah yang harus dilakukan disana dan penjelasan loket mana dengan fungsi apa. Udah OK sih menurut saya pelayanannya.

Sekitar jam 12 dipanggil untuk foto. Selesai kah? Tidak, karena ternyata mengarahkan anak bayi untuk diam dan pose sebentar aja itu susah. Berkali-kali difoto, tetep aja hasilnya ga bgitu OK. Tapi ga papa kata petugasnya, yang penting telinganya klihatan. Setelah foto, petugas akan memberikan lembaran yang harus dibawa nanti saat pengambilan paspor. Ada barcode yang bisa di-scan. Udah canggih ya 😀

3 hari kemudian (sesuai SOP) pak suami ijin setengah hari untuk ke kantor Imigrasi Tangerang ambil paspor. Alhamdulillah, satu dokumen siap.

Tips:

  • bila kesulitan mendaftar online, coba dengan berbagai PC, kali aja ada yang bisa.
  • Pilih kantor imigrasi terdekat dengan rumah atau kantor, jadi hemat waktu. Menurut info Kanim Jakarta Selatan udah OK banget pelayanannya, loketnya banyak jadi cepet. Dan untuk mengambil foto paspor bayi, mereka udah punya trik nya, which is briliant menurut saya. Kata seorang teman yang membuat paspor untuk bayinya, petugas imigrasi menyediakan kain putih untuk ditutupkan ke badan penggendong. Jadilah si bayi nyaman di foto, dan background nya tetep putih 😀
  • Datanglah pagi !!! Kalo memungkinkan minta antrian prioritas yang biasanya untuk lansia dan anak-anak. Agar anak-anak juga masih fresh. Makin siang, mereka pasti ngantuk dan cranky. Kemarin Fatih sampai ketiduran saat menunggu. Tapi bagus sih, jadi fresh pas giliran foto. Saking freshnya, susah diuruh diem 😦
  • Siapkan dokumen yang akan butuh dicek lagi oleh petugas, jadi bisa cepet. Kasihan banyak yang nunggu di belakang.
  • Bawa minum dan snack, agar anak-anak tenang misalkan ternyata harus menunggu agak lama.
  • Pakaikan mereka baju berlengan . Ada ketentuan di pintu masuk kantor imigrasi. Khalila kemarin saya pakaikan kaos lengan pendek berkerah. Sedangkan Fatih pakai kemeja.
  • G usah pake calo. Cepet koq prosesnya. Bisa dibaca dan nanya ketika sampai di kantornya. Udah banyak juga blogger yang posting terkait pembuatan paspor anak-anak.

 

Advertisements

What to Prepare? … Visa

Ya ampun, ini draft udah tertulis dari 20 Juli 2015, dan baru sekarang diselesaikan.

Isi Form Visa

Sebagai penerima beasiswa dari pemerintah Australia, saya memakai visa 576. Karena kami akan berangkat langsung bersama-sama, maka pengisian form visa dilakukan bersamaan. Suami dan anak-anak menjadi dependent saya di visa tersebut. Ada beberapa dokumen yang harus disedikan (lupa detailnya, maaf), silakan mengacu ke handout yang pasti diberikan oleh AAS Indonesia ketika briefing di sela-sela EAP. Selanjutnya bisa langsung diskusi dengan mereka terkait pengurusan visa dan dokumen yang dibutuhkan. O iya, salah satu kemudahan yang diberikan oleh AAS adalah, mereka menanggung biaya utuk pengurusan visa dependent (suami/istri dan anak), yang kabarnya lumayan mahal kalo harus bayar sendiri. Setelah isi form visa (pastikan AAS officer mengeceknya saat kita mengembalikan form tersebut), tinggal menunggu HAP letter yang akan dikirim via email agar dapat melakukan cek kesehatan.

Cek kesehatan

Cek kesehatan kami lakukan di RS Premiere Jatinegara (sesuai arahan AAS). Ada beberapa RS lain, tapi ini yang terdekat dengan kantor, mengingat cek kesehatan dilakukan di hari kerja. Untuk biaya cek kesehatan, hanya penerima beasiswa yang ditanggung. Pemeriksaan terdiri dari cek fisik, cek mata, cek urin dan rontgen (unuk mengetahui ada riwayat TBC kah). Kami membayar sekitar 1,3 juta kalo ga salah ingat. Untuk anak-anak di bawah 5 tahun hanya diharuskan cek fisik oleh dokter disana, dan ditanyakan riwayat imunsasi nya. Untuk wanita, tidak disarankan melakukan cek kesehatan ketika sedang menstruasi. Hal tersebut saya alami, sehingga saya harus kembali lagi ke RS di hari yang berbeda dengan suami dan anak2, karena di tanggal sek yang dijadwalkan ternyata masa menstruasi saya belum selesai.

Hasilnya akan keluar dalam 2 minggu. Namun RS hanya akan mengirimkan hasil tersebut ke Global Health, yang akan memberikan rekomendasi apakah kita layak diberikan visa oleh Departemen Imigrasi Australia. Kita bisa menanyakan hasil pemeriksaan bila mau dengan menelpon ke RS. Kami ga nanya sih kemarin. Bila dalam kurun waktu tidak ada kabar dari RS, maka dapat diasumsikan ga ada masalah dengan kesehatan kita. Karena bila RS melihat ada masalah, mereka akan mengkomunikasikan kepada pasien, sehingga ada treatment yang dapat dilakukan.

Hasilnya, alhamdulillah aman, karena ga ada berita apa-apa dari RS. Tinggal ketar-ketir nunggu visa nya.

Saat menunggu ga ada yang bsia dilakukan selalin berdoa. Karena bersama keluarga, waktu assessment mungkin agak lebih lama. menurut pegawai AAS Indonesia, bila visa keluarga tidak keluar, maka permohonan harus ditarik. Saya harus berangkat sendiri, dan suami harus apply visa ulang. Sedih dan galau??? Banget. Telpon terus deh, sambil berdoa. Sampai bosen kayanya yang ditelponin. Maaf ya Pak Ponco 😛

Permanent Accomodation

Karena kami mengusahakan berangkat bersama, maka ketersediaan permanent acommodation dalah sebuah keniscayaan (tsaahh …). Setidaknya akan menjadi bahan pertimbangan untuk meloloskan visa keluarga (ini saran dari teman yag sudah duluan berangkat langsung dengan keluarganya). ALLAH benar2 memberi kemudahan ketika Dia telah memutuskan memilihkan sebuah keputusan untuk hambaNya. Ketika EAP saya dikenalkan dengan kakak dari teman sekelas yang suaminya sedang sekolah di UQ, dan sudah akan kembali ke Indonesia. Ngobrol via WA dan langsung klik, belia juga menawarkan untuk take over rumahnya (yang keren banget). Namun, ALLAH mengatur rezki yang lain untuk kami. Karena LoA yang tidak kunjung datang dari kampus, saya beum berani memutuskan untuk mengambil rumah tsb. Walhasil, rumah itu pun diambil oleh teman lain yang juga dari Indonesia. Dan kami dikenalkan dengan seorang teman dari Indonesia yang kebetulan akan pindah rumah. Mereka mengirim foto rumah kepada saya, yang jujur saja tidak membuat saya tertarik (mengingat foto rumah sebelumnya). Namun, kembali lagi. apa yang baik menurut manusia, belum tentu adalah yang baik menurut ALLAH. Si pemilik rumah yang kedua ini MasyaALLAH baik sekali. Kami ditinggali rumah dengan isinya, hanya minus kulkas. Bahkan ketika kami datang, sudah disediakan beras, telur, mie instan dan beberapa bumbu masak, plus nasi hangat di rice cooker. Mereka juga menyempatkan mencarikan stroler untuk Fatih dan carseat untuk anak-anak. Dan oleh teman yang rumahnya ga jadi kami take over, kami dikirim nasi dan lauk lengkap, tersedia di atas meja, plus beberapa piring, sendok, sprei tebal dan electric blanket. Kehangatan yang sampai sekarang pun masih selalu membuat mata ini basah ketika mengingatnya. Eh, jadi ngelantur … maapkeun.

 

OSHC

Mengurus visa keluarga berarti juga harus upgrade asuransi kami, dari individu (yang dibayarkan oleh AAS) menjadi asuransi untuk keluarga. Karena kami masih di Indonesia jadi agak rumit prosedurnya. Pihak kampus tidak menyediakan fasilitas yang memudahkan upgrade ini, jadi saya harus melakukan contact dengan pihak Allianz sendiri sendiri via email. Upgrade hanya dapat dilakukan dengan kartu kredit. Masalahnya adalah kartu kredit siapa yang limitnya lebih dari 50 juta (jumlah biaya yg harus kami bayar untuk upgrade, sekitar AUD5000). Lagi-lagi ALLAH memberi kemudahan. Kami ditolong oleh teman yang sudah lebih dulu sekolah di Australia. Dia membayarkan asuransi kami dengan credit card nya, dan kami mentransfer Rupiah ke rekening nya di Indonesia. Alhamdulillah. Agak belibet prosesnya, tapi alhamdulillah selesai juga. Setelah terupgrade, sertifikat asuransi masing-masing anggota keluarga saya lampirkan sebagai kelengkapan pengurusan visa.

 

Sudah dulu ya untuk persiapan administrasinya. Semoga membantu.

Uhuk …

Diawali dengan batuk-batuk, karena blog yang berdebu. Postingan terakhir 8 Juli 2015, which was more than year ago. Postingan yang berisi janji akan banyak postingan selanjutnya, yang mana …. mmmm.

Tapi kan blog pribadi ini, untuk hiburan, jadi postingnya ya sesempetnya aja kan ya. Sibuk pun, adaptasi dengan lingkungan baru, kuliah, banyak tugas, de el es be. Udah setahun disini pun bakat ngeles masih segesit bajaj di Jakarta sana :p

Sejujurnya setelah disini, malas ngeblog melanda, padahal internet mah gampil banget, available dimana aja, hratis pun. Tapi ya namanya ga ada niat, mau fasilitas lengkap pun tetep ada aja alesan untuk ga ngetik. Setelah mulai kuliah, laptop disentuh beneran hanya untuk keperluan kuliah saja. Selesai semesteran yang mana liburnya pasti lumayan lama, laptop pun ditinggalkan di sudut kamar, tak tersentuh, sampai2 dia lupa psw wifi kampus. Long story short, its all about priority, that within this year, writing journal in my blog might not be priorities for me. Terus kenapa akhirnya nulis lagi? Entahlah. So, I just don`t want to promise anything now. We`ll see 🙂

Hi … (from Brisbane)

Well, we are finally here. So please accept our very warm greeting from Brissie 😀

8 Juli 2015, tepat sebulan (kurang sehari) sudah kami menginjakkan kaki di negeri Kangguru. Kalo ditanya gimana kabarnya atau gimana rasanya hidup di Australia. Hmmm … not bad, hahahaha … do I have another choice 😛

Sebelum berangkat sudah berjanji pada diri sendiri akan lebih rajin ngeblog, karena mikirnya pasti akan punya lebih banyak waktu kan di sini? Kenyataannya? Bisa dilihat lah ya dari kondisi blog yang berdebu dan penuh sarang laba-laba. Ada banyak hal yang pengen dicertitain, tapi bingung mau mulai dari mana. Hmmm …

Oh berhubung masih anget barusan selesai nulis second essay untuk IAP (Introductory Academic Program), maka selanjutnya penulisan blog akan dilakukan dengan metode yang serupa. Start with the purpose of the post, how the post will be arrange and the post it self. Hahaha … sounds ribet yak.

OK. Where should we start? Selanjutnya akan diharapkan ada beberapa posting tentang persiapan sebelum berangkat (yang masih nempel di ingatan aja), perjalanan dari Jakarta ke Brisbane, beberapa hari pertama di Brisbane (yang mungkin terdiri dari beberapa post). Banyak yeeee … iye, namanya juga rencana. Semoga ALLAH melimpahi saya dengan ke-istiqomah-an untuk menulis. Amiiinnnn …

 

Khalila, 4 tahun (25 Maret 2011-25 Maret 2015)

Assalamualaikum …

Teruntuk anak Bunda yang paling cantik,

Maafkan lambatnya Bunda dalam menulis surat ini ya sayang. Telatnya sampai lebih dari sebulan. Bunda tidak lupa, hanya saja untuk menulis surat istimewa untukmu pasti membutuhkan konsentrasi dan waktu yang tidak singkat. 2 bulan terakhir ini konsentrasi dan waktu Bunda hampir seluruhnya habis untuk memikirkan rencana keberangkatan kita untuk menyongsong hidup yang lebih baik (semoga) yang inshaALlah akan dimulai Juni nanti.

Terima kasih untuk empat tahun yang begitu luar biasa ini. Tahukah kamu Nak, dulu sebelum menikah, Bunda sering membayangkan akan sering ngobrol dengan anak gadis Bunda. Betapa senangnya Bunda di hari ketika dokter menyatakan bahwa Bunda benar-benar hamil. Meski sebenarnya Bunda sudah merasakan tanda-tanda kehamilan itu beberapa hari sebelumnya. Rasanya sungguh berbeda. Seperti ada semangat dan rasa nyaman yang sulit digambarkan yang muncul di tubuh dan hati Bunda. Mungkin ALLAh sedang memberi tahu Bunda bahwa akan ada makhluk cantik yang luar biasa hidup dalam rahim Bunda.

Sejak saat itu, Bunda jadi sering ngobrol denganmu, tentang apapun. Apalagi ketika dokter menyatakan bahwa calon bayi di perut Bunda memang berjenis kelamin perempuan. Jadi makin sering curhatngobrolnya, Oh apa karena ini ya, sekarang kamu jadi seneng banget ngomong dan susah dihentikan sampai kadang-kadang bikin Bunda pening :D. Well, peribahasa “buah jatuh ga jauh dari pohonnya” itu terbukti benar.

Oh awalnya, Bunda sempat berpikir ingin punya anak laki-laki sebagai anak pertama, karena di keluarga Eyang Semarang kan tidak ada anak laki-laki. Tapi setelah kehamilan makin besar, Bunda berubah pikiran. Bunda mau anak perempuan saja, jadi bisa Bunda mintai tolong bantu Bunda di rumah. Dan benerkaaann … kamu tumbuh jadi anak yang rajin bantu2 Bunda :D.

Kamu jadi calon bayi yang sangat menyenangkan untuk Bunda dan Ayah. Mabok sih, tapi hanya pada bulan-bulan pertama. Itupun setelah muntah Bunda tahu BUnda mau makan apa, sehingga BB BUnda pun naik drastis. Terima kasih Nak, menjadikan Bunda jadi lebih seksi ketika hamil. Bunda menuai pujian ketika hamil, karena Bunda terlihat lebih berisi dan segar. Hahaha …

Kelahiran mu pun tepat waktu. Mules di malam hari, lalu lahir esok paginya, tepat HPL. Terima kasih untuk momen istimewa yang akan selalu Bunda ingat di sepanjang hidup Bunda itu Nak. Setelahnya kita masih harus berjuang lagi untuk proses menyusui. Kamu menangis, Bunda pun menangis karena puting yang lecet. Tapi percayalah Nak, Bunda sama sekali tidak menyesal. Sampai kapanpun Bunda akan selalu menceritakan kepada perempuan-perempuan lain tentang pengalaman Bunda ini dengan bangga. Bunda berharap, Bunda juga akan punya kesempatan untuk menceritakannya padamu suatu hari nanti, di hari ketika kamu menangis di depan Bunda karena pengalaman yang sama. Terima kasih untuk kisah indah itu Nak. Setiap mengingat sentuhan tangan mungil dan tatapan matamu ketika menyusu, masih selalu berhasil membuat Bunda menahan air mata.

2 tahun menyusuimu terasa begitu cepat. Tiba-tiba saja datang masa Bunda harus menyapihmu. Sedihkah? Jangan ditanya. Rasanya seperti akan berpisah darimu. Rasanya Bunda belum memberi semua yang Bunda bisa usahakan untukmu. Lebay? Mungkin, tapi Bunda rasa itu lah yang dirasakan oleh semua Ibu di dunia ini.

Selanjutnya, tentu kamu jadi lebih dekat dengan ayah, tapi ketika sakit tiba, pelukan Bunda toh tetap jadi yang paling kamu inginkan. Teruslah begitu Nak. Ketika kamu merasa sedih dan bimbang, datanglah pada Bunda. Ketika kamu merasa senang, cukuplah bagi Bunda melihat senyum di wajahmu.

Tahun-tahun selanjutnya mulai lebih banyak drama. Anak gadis yang tadinya hanya bisa bermain dalam diam atau menangis bila merasa tidak nyaman, mulai bisa bicara. Tidak hanya bicara, tapi mulai bisa berdiskusi dengan Bunda. Tidak hanya berdiskusi, tapi bahkan mengkronfontasi kata-kata Bunda, yang sering sekali membuat Bunda jadi bicara dengan nada tinggi. Fiuuhh … setiap mengingat setiap perdebatan kita, jadi malu rasanya. Begitu kekanak-kanakan Bundamu ini Nak, yang mudah sekali frustrasi ketika bicara denganmu.

BIla sudah mulai bicara dan bercerita, sulit sekali menghentikanmu, kecuali kantuk tiba-tiba menderamu. Kadang Bunda bilang, Bunda pening mendengar ocehanmu di sepanjang perjalanan Serpong-Jakarta, Jakarta-Serpong. Tapi di saat yang lain BUnda khawatir bila melihatmu hanya diam dan melamun. Serba salah ya? Hahaha … begitulah Bundamu ini Nak.

Selain pintar bicara, gadis kecil Bunda juga sudah mulai senang menari. Suka menyanyi daaannn … senang sekali nonton TV. Huh … ga baik kalo yang terakhir itu. Salahkan Ayah dan Bunda untuk hal ini. Mari kita perbaiki.

Di usiamu yang kedua, Bunda kembali merasakan sensasi yang sama dengan ketika Bunda pertama menyadari kehadiranmu. Benar saja, dokter menyatakan akan ada anggota baru di keluarga kita. Mulai hari itu, kami memanggilmu dengan sebutan Mbak Lila, yang lalu diikuti oleh semua guru dan teman-temanmu di sekolah. Kami berharap dengan memberikan sebutan Mbak padamu, akan membuatmu menjadi lebih dewasa. Dan itu benar terjadi. Gadis kecil Bunda menolak digendong setiap melihat perut Bunda yang makin besar tiap harinya. Kadang Bunda memaksa menggendongmu, lebih karena Bunda tidak mau kamu merasa kehadiran adek akan membuatmu kehilangan Bunda. Sebagai anak yang dewasa, kamu menolak dengan manis “tidak Bunda, ada adek di perut”.

Setelah adek lahir, sempat ada kecemburuan, tapi hanya beberapa hari. Setelahnya kamu nampak sayang sekali pada bayi kecil itu. Sampai sekarangpun, ketika si bayi kecil itu sudah tidak lagi kecil, ketika si bayi itu sudah mulai bisa membuatmu merasa tidak nyaman dengan memaksa ikut bermain denganmu atau merebut benda yang sedang kaugunakan, ketika bayi itu mulai unjuk gigi berebut Bunda atau Ayah denganmu. Marah? Tentu saja. Kamu boleh menunjukkannya, karena kamu tetap harus bisa mempertahankan diri. Kami yang harus menjagamu agar kamu tahu batasannya. Selalu mengalah pada adek bukan hal yang wajib kamu lakukan Mbak. Tapi kalian eh kita harus sama-sama belajar meletakkan sesuatu dan seseorang di tempat yang tepat kan?

Akhirnya, Bunda selalu bersyukur pada ALLAH atas setiap detik yang diberikanNya untuk kebersamaan kita. Semoga masih ada jutaan detik berikutnya ya sayang. Semoga kita bisa sama-sama belajar menjadi lebih baik di setiap detik itu. Semoga Bunda bisa jadi Bunda yang baik untukmu. Yang bisa jadi contoh seperti apa harusnya seorang istri dan bunda itu. AMIIINN.

Peluk kenceng,

Bunda

The very proud Bunda

Bulan April … Artinya ada pentas lagi dalam rangka merayakan ulang tahun TPA. Sebagaimana setiap tahunnya, saya selalu deg-deg an menunggu performance si anak gadis. Berharap dia mau tampil dengan baik tentunya, tapi lebih mengharap dia menikmati penampilannya. Saya menunggu senyum khasnya, dan tatapan matanya yang selalu berhasil membuat saya bersusah payah menhan air mata #cengeng.

Pagi buta kami bearangkat dari Puncak, karena ada suatu acara. Karena berangkat dalam kondisi masih tidur, maka Khalila harus mandi di sekolah. Sembari mandi, saya terus bicara padanya, memintanya tampil dengan baik sambil tersenyum. Satu hal yang saya yakin menguatkannya adalah ketika saya bilang “Mbak tampil yang baik y nanti, sambil tersenyum. Nanti Bunda rekam dan foto, lalu kita kirim ke Eyang. Eyang pasti senang dan cepat sembuh”. Gadis kecilku mengangguk dengan sangat antusias :D. Iya Jumatnya kami dikabari kalau Eyang sakit dan harus opname :(. Alhamdulillah ketika postingan ini diturunkan (kaya berita aja), beliau udah pulih dan dijinkan pulang.

Saat yang ditunggu pun tiba. Si anak gadis naik ke panggung dengan anak-anak lainnya. Cantiiiiiikkkkk banget … #mujiAnakSendiri. Terima aksih ya bu guru. Penampilan pertama masih adalah untuk hafalan. PR iniiii … Mbak hafalannya belum lancar. Nanti kita belajar lagi ya Mbak. Hafal banget nya di bagian hadits “surga di bawah telapak kaki ibu” 😀

Penampilan berikutnya menari dengan iringan Lagu Dindi ba’Dinding. Mata saya langsung basah. Sepanjang menari si gadis mau terus tersenyum. Yang paling saya ingat adalah tatapan matanya yang seolah berkata “Look at me Bunda. Aku tersenyum Bunda …. untukmu.” #GR. Mungkin penampilannya belum bisa dibilang OK banget, karena matanya selalu tertuju pada saya, tapi terserahlah. Namapun anak gadis Bunda kan :D.

Eh iya, anak ganteng juga perform loooh. Tapi judulnya “latihan menari”. Hasilnya??? Rusuh kalau kata adek saya setelah lihat video yang kami kirim. Hahaha … Dimulai dengan berdiri, tengok kanan kiri, bengong, lalu mulai ambil suara nangis satu persatu. Yang paling kenceng suara anak siapa??? … #ngacung. Ya menurut ngana? anak umur 1-2 tahun itu tetiba ditonton banyak orang, wajarlah kan klo pada nangis #EmaknyaBelain. Ga papa anak-anak manis. Serusuh apapun, tapi setiap tahunnya toh pertunjukan kelas itu tetap selalu dinanti. Karena sebenernya mereka ga perlu menari sih untuk menarik hati, karena cuma dengan ekspresi mereka aja kami para orang tua ini udah jatuh luluh ;P

Last but not least. Selamat ulang tahun TPA. Semoga makin jaya dalam menjadi partner kami untuk mengasuh dan membesarkan buah hati penerus bangsa. MERDEKA !!

Belajar Lagi

Assalamualaikum. Haiii blog … long time no see yak #sedotDebuPakeVacuumCleaner. Maap-maap sibuk beud dah ini critanya. Long story short aja ya ngapain aja beberapa bulan trakhir ini:

Setelah pengumuman dapat beasiswa, perjuangan pun dimulai. Jadi yaaa … dapet beasiswa itu cuma pintu menuju perjuangan yang luar biasa panjang dan berliku nya Jenderal. DImulai dengan English Academic Purpose (EAP) yang membuat saya merasakan hebohnya jadi mahasiswa lagi. Sungguh 6 minggu yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Senang karena saya dapat teman dan pengalaman baru dan pelajaran yang sungguh baru untu saya. Melelahkan karena saya harus memaksa diri berpikir, merasa dan berbicara dalam bahasa inggris. Trust me, it was fun but really exhausting. Setiap pulang “sekolah” saya merasa sebagian besar dari diri saya sangat-sangat lelah.

Awalnya belajar bagaimana menulis secara akademis itu. Mulai dari menyusun alur yang benar, biar flownya smooth, tapi tetep berhasil menyampaikan pesan. Saya dikenalkan dengan yang namanya Rationale , silakan dicek ke mbah google aja. Konsultasi pertama dengan lecture (native), alur saya dibilang kacau. Bahkan dia nanya “do you think clearly?”. Rasanya pengen langsung nangis deh dikatain bgitu. Well selama ini ga pernah ada yang ngatain gitu sih. Ya kan karena emang ga pernah nulis (paling banter nulis blog dan Nota Dinas), jadi apa yang mau dikomentarin. Eh apa jangan-jangan postingan-postingan saya juga berantakan alurnya -__-

Setelah konsultasi, dilanjut membuat essay 500 kata. Yes cuma 500 kata. Sounds simple ha? But writing it in English … with good and clear thinking … I dont think that was that easy at that time (mulai berantakan). Bener aja, essay saya cuma dikasih C sama lecturenya dengan banyak coretan dimana-mana. Sedih? Banget. Tapi justru itu melecut saya. Sounds klise? Iya emang. Setelahnya saya pepet terus tuh temen-temen yang dapet nilai A. Saya baca essay mereka. Dan saya terkaget-kaget. Essay mereka itu adalah essay yang sangat sedrhana, temanya ringan, bahasanya mudah dimengerti, kata-katanya familiar, dan pesannya langsung tersampaikan begitu selesai dibaca. Lalu saya baca essay saya. Yang saya lihat adalah tulisan yang mbulet, penuh istilah teknis dan yang terparah adalah alur yang melompat-lompat. Lalu saya coba membuat tema saya jadi lebih sederhana.

Satu hal yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah KISS (Keep It Simple, Stupid). Yes, it is not easy to keep something simple. Bagian dari diri kita yang namanya ‘ego’ pasti ingin menonjolkan diri dengan mengetikkan istilah-istilah rumit yang butuh penjelasan panjang (lumayan kan nambahain word account). Ego juga yang mendorong kita menulis kalimat-kalimat bertingkat yang panjangnya udah bisa ngalahin ular naga. Lets blame the EGO!

Setelah essay 500 kata, dilanjut dengan essay 2000 kata yang harus disubmit 2 minggu kemudian. Pening? Jelas, tapi udah tau harus kemana dan ngapain. Library sungguh jadi tempat favorit deh selama 6 minggu itu, karena adem, dan akses internetnya luar biasssaaa, bisa akses ke jurnal-jurnal luar juga :P. Kalo ga inget harus jemput anak di TPA, betah-betah aja kayanya nangkring disana sampe tutup. Begitu dapet ide, langsung bikin coretan rationale nya. Lalu konsultasi ke teman-teman yang dapet pujian di essay 500 word nya. Alhamdulillah mereka adalah orang-orang cerdas yang sangat humble. Bukannya menghindar atau sok sibuk, tapi justru mau dengan sangat pengertian menerima curhatan calon mahasiswa S2 amatiran macam saya ini. Tapi ga mau juga dong ya ngrepotin terus. Jadi trik yang saya lakukan adalah, sodorkan bagan alur pikir saya pada mereka, lalu lihat ekspresi mereka ketika membacanya. Begitu keningnya berkerut, berarti ada yang salah dengan bagan saya. Saya minta mereka nandain aja dimana yg bikin mereka jadi mikir agak berat. Tapi ya itu tadi, karena mereka terlalu baik, selain menandai mereka juga menuliskan penjelasan dari tanda tersebut atau nyerocos menjelaskan kebingungannya. It was really help me. Jadi kangen sama orang-orang hebat itu.

Bagi saya saat itu, kening pembaca yang berkerut menandakan bahwa pesan saya tidak tersampaikan dengan jelas. Ada sesuatu yang kurang dalam alur essay saya. Tulisan akademis yang benar seharusnya mencerahkan, bukan malah membingungkan dan membuat pusing. Kalau setelah membaca, lalu muncul pertanyaan baru yang mengembangkan pesanatau tema nya,  itu baru bagus. Tapi kalau kening berkerut dari awal sampai akhir membaca, tandanya tulisan itu bukan tulisan yang OK, karena sangat memberatkan pembaca . Itu sih yang saya tangkap.

Singkat cerita, saya mulai mengeksekusi essay 2000 kata saya. 3/4 jalan bisa saya lalui dengan mulus. Namun saya kehilangan arah di 1/4 terakhir. Tiba-tiba saya merasa tidak punya cukup waktu untuk melengkapi studi literatur (tsssaaahhhh) saya. Benar saja, hal serupa disampaikan lecture ketika membaca essay saya. Dia menyebutkan titik dimana dia mulai bingung. Dan itu adalah titik yang sama yang saya rasakan ketika saya kehilangan arah. Susah ya ternyata jadi penulis ituuu … Tapi saya senang, karena saya merasa saya sudah bisa menjadi bagian dari pembaca saya. Itu modal yang cukup krusial deh kayanya. Karena dengan mengetahui karakter pembaca, kita akan tahu harus menulis seperti apa, perlu detil atau cukup yang umum-umum aja misalnya.

DI hari essay dikembalikan, senyum saya merekah. Usaha saya diganjar nilai B-. Rasanya pengen tertawa dan memeluk semua orang yang saya temui :D. Cuma B- sih, tapi itu berarti saya sudah membuat kemajuan kan. Dan saya tahu pasti saya belajar banyak hal. Teman-teman dan lecture saya juga mengakuinya. Sama sekali ga ada tujuan menyombongkan diri ketika saya menulis ini. Tapi lebih pada bangga karena saya tidak lantas terpuruk dan menangisi kelemahan saya, tapi justru mau belajar lagi. Ga sabar rasanya pengen segera mulai kuliahnya … hahaha

KISS

gambar diambil dari sini

Scholarship and My Beloved Husband

Finally, I got the scholarship. Sooo … Australia, (InshaALLAH) here we come.

We? Yes, kami (saya dan suami) telah sepakat untuk berangkat bersama. Setelah 3 kali mencoba, akhirnya tahun ini menjadi tahun jawaban untuk saya. Mereka memberi kesempatan pada saya, eh kami untuk belajar lagi. Mengapa saya selalu bilang kami? Karena ini adalah keputusan kami.

Ridho suami adalah sebuah keharusan bagi seorang istri. Dan saya benar2 membuktikannya. Tanpa bermaksud menyalahkan suami tercinta, tapi saya merasa bahwa dua aplikasi saya sebelumnya belum mendapatkan keikhlasan dari suami. Meskipun beliau selalu mempersilakan saya apply, dan mengatakan mendukung, namun saya sering menangkap gurat keraguan di matanya. Dan ALLAH menjawab keraguan itu. Namun Dia menjawabnya dengan cara yang sangat elegan. Tentu karena Dia memang Yang Maha Indah kan.

Aplikasi pertama saya ditolak. Meski sedih, namun kemudian ALLAH menghibur saya dengan kehamilan Fatih. Aplikasi kedua saya pun masih belum berhasil. Sedih pastinya, namun lagi-lagi ALLAH menghibur saya dengan kehidupan dan pekerjaan yang lebih penuh tantangan. Di tahun ketiga, ketika semangat sudah mulai luruh dan malu mendera karena kegagalan berkali-kali, justru suami tercinta yang mendorong saya untuk apply lagi. Kali ini saya melihat keyakinan di mata nya. Jadilah saya apply dengan setengah keyakinan, dan justru berhasil.

Keikhlasan beliau tidak hanya dengan mengijinkan saya apply, namun juga dengan mengatakan akan mendampingi saya meraih mimpi saya, yang beliau sebut sebagi mimpi kami. Awalnya saya sering berpikir, bagaimana mungkin ada orang yang begitu santai seperti beliau, seolah ga punya impian atau target untuk diraih. Dan saya pernah secara frontal menanyakan hal tersebut pada beliau, ketika saya merasa jengkel dengan sikapnya yang woles banget itu. Yang dijawab, lagi-lagi dengan sangat santai “Mimpi Ayah ya mewujudkan mimpi Bunda kali ya. Keluarga ini sudah memenuhi mimpi Ayah koq”. Ahhh … how can Im not love you Ayah.

Setelah saya lolos menerima beasiswa, keraguan justru datang pada saya. Kalau kami benar-benar berangkat, artinya belaiu harus cuti di luar tanggungan negara dengan berbagai konsekuensi. Dampak terberat menurut saya adalah dampak psikologis. Apa kata orang pada beliau, bagaimana mereka nanti melihat suami saya. Seorang suami nemenin istrinya sekolah, dan bela2in cuti??? Kan justru beliau kepala keluarga nya, koq malah beliau yg “dikorbankan” kariernya??? Langsung terbayang seberat apa beban beliau nanti. Tapiii … lagi-lagi ketika saya sampaikan kekhawatiran saya, belaiu menjawab dengan santai. “Ayah ikut untuk anak-anak, karena Ayah yakin Bunda ga mau ninggalin anak-anak kan. Menjadi kepala keluarga memang wajib memberi nafkah. Yang wajib itu memberi nafkah, bukan punya karier. Karier itu bonus. Kalo disana nanti Ayah tetap bisa bekerja dan menafkahi keluarga kita, lalu dimana masalahnya. Dan ga usah lah dengerin omongan orang. Wong Ayah sendiri saja ga dengerin koq” (ini diceritakan dengan bahasa saya ya, yang kurang lebih itu point nya). … Pengen nangis deh setiap mengingat kata-kata beliau.

Laki-laki ini yang sering membuat jengkel karena terlalu santai, dan seolah ga punya visi, ternyata justru istiqomah dengan visi nya, yaitu membahagiakan keluarganya, selalu bersama anak dan istri nya. Dan salah satu bentuk ke-istiqomah-annya adalah dengan MAU mendampingi istrinya yg ambisius ini mewujudkan mimpi.

Semoga ALLAH membalas setiap detik ke-ikhlas-anmu mendampingi kami dengan segenap ampunan untuk setiap khilafmu. Dan semoga ALLAH membalas tiap titik cintamu dengan limpahan kasih dan sayang serta ridhoNya bagimu dan setiap usahamu. Semoga setiap senyummu dan tetesan keringatmu mengusahakan kebahagiaan kami dibalas ALLAH dengan keberhasilan dan kemudahan di setiap langkahmu.

Fatih, Setahun Bersamamu

Dear Fatih, anak kebanggaan Bunda

Assalamualaikum …

Setahun sudah Bunda bisa memelukmu

Tak henti Bunda mensyukuri itu

Bila awalnya Bunda ragu bisakah Bunda menyanyangimu seperti Bunda menyayangi Mbak-mu

Sekarang Bunda justru ragu, bisakah kami tanpamu

Semua akan indah pada saatnya

ALLAH mempercayakanmu pada kami pun tanpa direncana

Tanggal kelahiranmu juga lebih dari seharusnya

Berat badan lahirmu juga lebih banyak dari bayangan Bunda

Kepandaian yang ALLAH tambahkan padamu tiap harinya pun sungguh tak terduga

Fatih anak Bunda

Tumbuhlah jadi anak yang berguna

Laki-laki yang kuat jiwa dan raga

Muslim yang teguh berpegang pada agama

Pemimpin yang arif dan bijaksana

Kekasih ALLAH dan RasulNya

Suami dan ayah yang dirindu dan dicinta dalam keluarga

Selamat Ulang Tahun kesayangku

Doa kami selalu tercurah untukmu

Semoga ALLAH selalu melindungimu

Hebatlah seperti namamu

 

Dari kami yang selalu menyayangimu

Jakarta, 3 Feb 2014

 

Fatih, 10th dan 11th monthsary

Yeyeye … makin deket ke 1 tahun 😀

Selamat Ulang bulan ke 10 dan 11 anak soleh kebanggaan Bunda.

2 bulan ini, rapel lagi?? Pastinyaaahhh. Yok langsung ya.

10 bulan

Bunda mulai dengan cerita pertambahan gigimu. Setelah sekian lama melihat senyummu dengan 2 gigi. Maka bulan ini kamu resmi bergigi 4, alhamdulillah *lalu ngilu*. Selamat ya Nak *lalu ngilu lagi*.

Perdana melihat hujan beneran dan merasakan kecipratan air hujan. Seneng banget ya duduk di teras dalam hujan deras bertiga sama Ayah dan Mbak Lila, sampai2 ga mau diajak masuk ke rumah 😛

Makin kesini Bunda merasa kamu makin bisa menunjukkan keinginan dan keukeuh sumrekeuh sama keinginanmu itu. Bisa loh suatu malam di perjalanan pulang, kamu nangis sampai hampir setengah jam, berteriak sampai terbatuk-batuk karena ga mau duduk di carseat. Bunda juga keukeuh lah ga mau gendong atau pangku, soalnya ga aman. Dan lagi kalau digendong atau dipangku Bunda, kamu pasti ga mau diem anteng. Heboh nyamperin Mbak Lila di carseatnya, atau minta berdiri di kursi dan melihat ke arah belakang. Sungguh sangat tidak aman dan tidak nyaman, apalagi hampir dipastikan ada yang ngebut kan kalo di tol *lriik Ayah*.

Sekarang juga udah mulai ada yang jadi anak ayah. Kalo dicuekin karena Bunda lagi sibuk di dapur, trus buru-buru nyari ayah deh, merangkak sambil nangis, merajuk minta digendong. Atau cepet-cepet merangkak ke pintu depan kalo denger suara motor ayah datang. Bunda seneng sih, tapi ga usah pake nangis ah Nak. Kamu kan laki-laki, yang tegas dong #AmnesiaKaloYangDibahasIniAdalahBayi10Bulan

Makin kesini makin sering kayanya ya Bunda nerima laporan kamu jatuh atau kejedot Nak. Hampir tiap hari deh kayanya. Bunda tentu ga bisa salahin bu guru dong, karena kan ada banyak temenmu yang juga harus dijaga. Jadinya Bunda cuma bisa minta tolong sama anak Bunda ini untuk lebih hati-hati mainnya, supaya aman. Sambil berdoa semoga ALLAH selalu melindungimu di setiap tingkah langkahmu. Ya sesekali jatuh ga papa lah, kan anak laki-laki :D.

Makan buah, mangga dan semangka udah g usah dihalusin atau dijus lagi. Cukup dipotong-potong saja. Dan tetep jadi raja makan buah di sekolah :D. Makan juga alhamdulillah kamu termasuk anak yang gampang-an :P. Roti tawar atau roti sobek Sa*iRot* jadi andalah Bunda deh kalo ada yang mulai males makan bubur.

Udah sempet nyicip teh manis hasil kebaikan Mbak Lila -__- . Udah nyicip krupuk juga. Udah nyicip tempe yang digoreng pake minyak dan digaremin #sigh. Makin banyak deh bonus menuju setahun ini :D.

Oh iya bulan ini juga akhirnya selesai kewajiban imunisasi, yang ditutup dengan imunisasi campak di Posyandu terdekat.

11 bulan

Baru bulan lalu nulis gigimu nambah 2 dan bulan ini tiba-tiba aja Bunda melihat ada 4 gigi muncul di gusimu. Alhasil sekarang tiap tersenyum terlihat ada 4 gigi di gusi atas dan 4 gigi di gusi bawah. Ngilunya??? Ehm … jangan ditanya. Sekarang anak Bunda ini hobi deh menggeretakkan gigi, bener ga sih istilahnya. Pokoknya membuat suara dengan menggesek-gesekkan gigi geligi. Duh hanya dengan mengingatnya saja Bunda ngilu lagi Nak.

Beberapa hari, sempat kamu yang doyan dan gampang makan berubah menolak makan. Susah banget masukin bubur ke mulutmu. Akhirnya suatu pagi Bunda cuma potong-potong aja sayur buatmu, dibikin sayur bening, trus dicemplungin nasi. Namapun nyoba kan, misal ditolak pun Bunda ikhlas lah. Ehhh … ga disangka ga dinyana, kamu malah makan lahap hap hap, secepat kilat. Hahaha … fix mulai hari itu we say good bye sama blender. Many thanks for you the hills blender :P. Terima kasih ya anak kesayangan Bunda, sekarang Bunda bisa bangun agak siang karena menyiapkan makanmu jadi lebih mudah dan cepat :D.

Perkembangan emosimu … hmmm … sudah lebih kaya lah ya Nak ekspresimu. Yang paling hits di bulan ke sebelas ini adalah mengerutkan alis (nyureng) bila merasa sesuatu tidak sesuai dengan keinginanmu. Dilarang dikit, nyureng. Diambil mainanya, nyureng. Roti habis dan ga langsung dikasih, nyureng. Mau pinjem mainan, ga dikasih, nyureng. Dicolek saat lagi BT, nyureng. Disapa sama orang yang kurang diinginkan, nyureng. Diiihh … nyureng aja terus jadinya. Niru siapa sih #sodorin kaca ke muka sendiri#

Kata para Bunda temen-temen di TPA, kamu ini anak yang penyayang. Kalo ada temen yang nangis, biasanya kamu hampiri lalu dibelai-belai atau dicium, yang lebih sering jadinya malah makin nangis karena membelai atau menciumnya terlalu keras, yang jadinya malah kaya nabok atau nyruduk. Ga papa deh ya, yang dihitung kan niat baiknya ya Nak. Cuma lain kali harus lebih hati-hati ya Nak, yang baik kalo mau menghibur.

Sampai bulan ini, kemana-mana masih merangkak deh ya anak Bunda ini. Sesekali mau dititah, tapi masih belum sering. Kadang kalo butuh cepet berpindah tempat, tetep milih merangkak aja. Udah bisa nyender lepas tangan, tapi blom berani berdiri tegak sendiri. Nyusruk pun masih sering. Puncaknya adalah kejedot pinggiran tempat tidur, yang berakibat darah menetes agak deras dari gusimu, yang membuat Bundamu ini puyeng hampir pingsan, padahal anaknya udah main-main lagi seolah ga terjadi apa-apa. Masih tetep lebay ternyata Bundamu ini Nak.

Udah bisa main bola dan balon. Horeeee …. Meskipun melemparnya belum pinter, tapi udah ngerti kalo main bola/balon itu duduk berhadapan, lalu berusaha melempar bola/balon itu ke lawannya. Udah bisa main cilukba, tapi yang ditutupin kepalanya bukan matanya :D. Daaannn … udah makin makin ga tertib di mobil. Duduk manis di carseat itu cuma dilakukan kalau tidur. Itupun pernah kamu memaksa tidur dengan posisi tengkurap di carseat yang yaaa gitu itu posisinya -__- . Makin kesini Bunda merasa kamu makin cocok sama Mbak Lila. Cocok ga tertibnya #elapKeringet. Sudah bisa lebih menikmati melihat lalu lalang mobil dari jendela tiap pagi, sambil kadang terdengar suara “aaaaaaa …. eeeee ….” dari mulut kecilmu. Sama senangnya dengan main-main di kursi sopir, sambil sok-sok-an pegang setir. Well, anak cowok emang pasti gitu ya.

Tiap pagi masih di-lap-lap aja dan ganti baju sebelum berangkat sekolah. Karena kalo dimandikan, besoknya pasti langsung pilek :(. Nah week end ini yang bisa mandi seger, 3 kali sehari dengan shower air dingin. Segeeerrr … :P. Jangan sampe para Eyang tau ini. hihihi. Dan jangan sampe juga mereka tahu, kalo anak bayi 11 bulan ini pernah diajak hujan-hujanan sama Bundanya 😛

ASIP gimana Bunda? Ehem … masih koq, ya meskipun kejar tayang. Semoga bisa terus full ASI aja sampe 2 tahun ya. Doakan Bundamu ini agar tetap istiqomah ya Nak.

Milestone bulan ke-sebelas ditutup dengan laporan BB. Awal bulan ditimbang di TPA … hasilnya 9,3 kilo. Yeeee … alhamdulillah, masih nambah terus tiap bulannya.

Sehat terus ya Muhammad Fatih Afan Azzamy. Belajarlah kebaikan dari apapun dan siapapun Nak. Semoga ALLAH selalu melindungi dan menuntunmu.